Jul 25 2008
Attitude…..
Beberapa waktu lalu, seperti biasa, saya kebagian tugas menseleksi karyawan baru di departemen saya, namun kali ini bukan karena ada yg resign, namun penambahan karyawan karena kebutuhan di perusahaan, jadi mau ditambah 2 person.
Yang berbeda kali ini dibanding yg dulu2 adalah budget yg disetujui sangat2 minim(gak jauh2 dari UMR), sehingga dengan budget segitu hanya memungkinkan utk merekrut yang selevel SMA, hal ini juga merupakan pengalaman baru bagi saya, karena sebelumnya saya belum pernah menseleksi lulusan SMA, biasanya lulusan S1, S2 ato minimal D3.
Sebenernya kualifikasi kebutuhan di departemen saya sangat tinggi, karena harus bisa bhs inggris, komputer dll. Akhirnya saya buatlah soal sederhana utk melihat kemampuan Excel dan soal utk melihat kemampuan Bhs Inggris..
Tahap pertama ada 7 orang, rata2 lulusan 2007, Seperti yg sudah saya duga, para lulusan SMA tsb rata2 tdk mampu mengerjakan soal2 yg saya buat, termasuk bhs inggris yg menurut saya sangat mudah, yang membuat saya heran, di lembar UN (UAN?) mereka nilai BHS Inggris ada yg 8 bahkan ada yg 9, how come??
Akhirnya dari bag HRD menyodorkan lagi 8 orang utk di seleksi, setelah di Test, ada beberapa orang yg lumayan.
Singkat cerita dapetlah 1 cewek dan 1 cowok, dgn kemampuan komputer dan bahasa inggris “lumayan”, karena kalo digali dari sesi wawancara juga kurang bisa, karena mereka umumnya menyatakan siap bekerja apa aja (efek dari byk-nya pengangguran/kegagalan pemerintah menyediakan lap. kerja?).
Yg cewek berasal dari salah satu desa di Jawa Barat, penampilan yg sederhana dan santun pada sesi wawancara, membuat saya berpikir, at least dia telaten dan gesit karena orang dari kampung khan rajin2, pikir saya kala itu, sementara yg cowok, adalah anak tertua dari 3 bersaudara, saya pikir, dia ini pasti bertanggung jwb, dia ini anak Kota (tinggal dan besar di jakarta).
Trus apa yg terjadi? seminggu sampai 2 minggu awal, semuanya seperti terlihat biasa2 saja,yang cowok memang gesit dan rajin, disuruh apa aja dikerjakan, sementara yang cewek, minta ampun, ternyata orang-nya tdk ada sopan santun, mengabaikan apa yg diberi tahu oleh rekan2 di departemen, dan bila ada yang butuh bantuan sama sekali tidak tergerak untuk membantu, padahal sebagai staff, dia harusnya all around mengerjakan apa yg bisa dikerjakan, singkatnya, tidak ringan tangan! dia hanya mau menerima perintah dari orang yg secara Sruktur berada diatasnya, hal ini membuat saya terpukul, rekan2 yg senior mulai menyalahkan saya karena salah memilih orang.
Pelajaran yg bisa dipetik (oleh saya) ;latar belakang (lingkungan) seseorang tdk menentukan apa2, semua kembali ke pribadi masing2…
Anak kota, biar keliatan-nya selenge-an tapi tetep ada yg rajin dan bisa diandalkan, anak desa, walopu keliatan rajin, ternyata ada yg malas dan gak punya attitude.
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.